Senin, 19 April 2010

ORGANISASI RUANG

1. Organisasi Terpusat

Organisasi terpusat merupakan merupakan suatu organisasi ruang yang mempunyai suatu ruang pusat yang cukup besar yang juga berfungsi sebagai patokan untuk penyusunan dan pengumpulan ruang – ruang sekunder yang ada di sekitarnya.

2. Organisasi Linear

merupakan organisasi ruang yang terdiri dari sederetan ruang – ruang yang berulang. Organisasi semacam ini mempunyai beberapa kelebihan yaitu bentuknya yang cukup fleksibel sehingga dapat disesuaikan dengan bermacam – macam kondisi tapak, organisasi linear juga dapat menghubungkan dirinya dengan ruang – ruang yang lain di luar organisasi ruangnya menurut arah panjang organisasi linear, dapat dijadikan sebagai pemisah antara dua kawasan yang berbeda.

3. Organisasi Radial

Organisasi ini merupakan penggabungan dari organisasi ruang terpusat dengan organisasi ruang linear. Komposisi dari organisasi radial adalah organisasi radial mempunyai satu ruang pusat yang dominan dan dikelilingi oleh ruang – ruang linear yang berkembang mengikuti arah jari – jarinya. Oragnisasi ruang radial mempunyai beberapa kesamaan dengan organisasi ruang terpusat yaitu kedua organisasi ruang ini mempunyai satu ruang pusat yang menjadi dasar atau patokan untuk mengembangkan ruang – ruang lain yang ada di sekitarnya, mempunyai deretan ruang – ruang sekunder yang berkembang disekitarnya. Disamping itu ada juga perbedaan yang terdapat dari kedua organisasi ruang ini yaitu dari sisi visualisasi organisasi ruang terpusat merupakan sebuah bentuk introvert yang lebih memusatkan pandangannya kea rah ruang pusatnya, untuk organisasi ruang radial lebih mengutamakan pandangan yang menyebar dari ruang pusat mengikuti arah ruang – ruang linear yang disusun sesuai jari – jarinya.

4. Organisasi Cluster ( berkelompok )

Organisasi ruang yang menggunakan cara perletakan ruang – ruang untuk menghubungkan ruang yang satu dengan ruang yang lain. Perletakan itu dapat dipisahkan lagi menjadi tiga bagian menurut bentuk ruang, letak pengelompokan ruan dan orientasi atau kondisi ruang.

5. Organisasi Grid

Merupakan organisasi ruang yang pola dan letak dari sebuah ruang diatur oleh pola grid. Kekuatan pola grid dalam visualisasi akan terlihat jelas apabila mepunyai tata letak yang teratur. Dalam penyusunan ruang menurut polagrid juga biasanya terbentuk ruang – ruang positif dan juga ruang – ruang negative.

Referensi :

www.google.com

www.wikipedia.org

ARSITEKTUR Bentuk, Ruang, dan Tatanan oleh FRANCIS D.K CHING



Nama : Frans Y Pelamonia

NPM : 20308052

Kelas : 2 TB 01

Mata Kuliah : Teori Arsitektur 1

BENTUK

1. Perubahan Bentuk

a. Perubahan dimensi
Ialah perubahan yang dihasilkan dari pengubahan ukuran pada bagian tanpa menghilangkan identitas aslinya. Dengan ada perubahan ukuran maka sebuah bentukan dapat berubah menjadi besar, kecil, memanjang, memendek dan sebagainya. Perubahan dimensi ini bisa dilakukan dengan cara vertikal, horizontal maupun diagonal.
Sebuah kubus misalnya, dapat diubah menjadi bentuk-bentuk prisma serupa dengan mengubah ukuran tinggi, lebar atau panjangnya. Bentuk tersebut dapat dipadatkan menjadi bentuk bidang pipih atau direntangkan menjadi suatu bentuk linier.

b. Perubahan akibat pengurangan (substractive)
Substractive adalah perubahan yang dikarenakan pengurangan pada bentuk aslinya istilah yang sering kita dengar adalah pencoakan, atau dapat juga besarnya perubahan menentukan apakah bentuk tersebut dapat mempertahankan identitas aslinya.

c. Perubahan akibat penambahan (additive)
Perubahan Additive adalah perubahan dengan cara penambahan elemen pada bentukan aslinya sehingga dapat menghilangkan identitas aslinya dan membuat identitas baru. Apabila sebuah bentuk terpotong diperoleh dengan menghilangkan sebagian dari volume asalnya, maka suatu bentuk dengan penambahan dihasilkan dengan menghubungkan satu atau beberapa bentuk tambahan lain terhadap volume yang sudah ada. Sifat proses penambahan serta jumlah dan ukuran relative unsure yang ditambahkan akan menentukan apakah identitas bentuk asal dapat dipertahankan atau berubah.


2. Penggabungan Bentuk

a. Spatial tension
Spatial Tension adalah kedua bentuk secara relatif berdekatan atau memiliki kesamaan visual.
Contoh dari Spatial Tension adalah

b. Edge to edge contact
Edge to edge contact adalah dua buah bentuk satu sisi bersamaan dan dapat dan berporos pada sisi tersebut.
Contoh dari edge to edge contact adalah

c. Face to face contact
Face to face contact adalah adanya bidang-bidang datar pada bentuk-bentuk yang terletak sejajar.

Contoh dari Face to face contact adalah

d. Interlocking relationship
Interlocking relationship adalah kedua bentuk saling menerus ke dalam masing-masing volume ruangnya.

Contoh dari Interlocking Relationship adalah



Referensi :
www.google.com
www.wikipedia.org
ARSITEKTUR Bentuk, Ruang, dan Tatanan oleh FRANCIS D.K CHING


Nama : Frans Y Pelamonia
NPM : 20308052
Kelas: 2 TB 01
Mata Kuliah : Teori Arsitektur 1
HUBUNGAN DAN SIRKULASI RUANG

1. HUBUNGAN RUANG

A. Ruang dalam ruang

Ruang dapat ditampung di dalam volume sebuah ruang yang lebih besar. Ruang yang lebih besar berfungsi sebagai kawasan 3 dimensi untuk ruang yang dikandungnya. Ruang yang lebih kecil mempunyai orientasi yang berbeda dengan ruang pembungkusnya.

B. Ruang saling berkaitan
Area sebuah ruang bisa menumpuk pada volume ruang lainnya. Hubungan spasial yang saling mengunci dihasilkan melalui penumpukkan dua buah area spasial serta munculnya zona ruang yang dibagi.

C. Ruang bersebelahan
Dua buah ruang bisa saling bersentuhan satu sama lain ataupun membagi garis batas bersama. Tingkat kemenerusan visual dan spasial yang terdapat di antara dua rung yang berdekatan tergantung pada karakter bidang yang memisahkan dan menyatukan mereka.
Bidang yang memisahkan dapat :
Membatasi akses fisik dan visual antar ruang yang berdekatan, memperkuat individualitas masing-masing ruang, dan mengakomodir perbedaan-perbedannya.
• Tampil seperti sebuah bidang yang berdiri sendiri di dalam sebuah volume ruang tunggal.
• Didefinisikan oleh sebaris kolom yang memungkinkan kemenerusan visual dan spasial di antara kedua ruang tersebut.
• Dirasakan cukup hanya melalui perubahan ketinggian atau kontras pada material permukaan atau tekstur di antara kedua ruang.

D. Ruang dihubungkan dengan ruang lain
Dua buah ruang bisa saling mengandalkan sebuah ruang perantara untuk menghubungkan mereka. Ruang perantara dapat berbeda bentuk atau orientasi untuk menjalankan fungsi berhubungan. Ruang perantara dapat menjadi linear dalam bentuk, untuk menghubungkan dua ruang yang berjauhan. ruang perantara dapat menjadi dominan dalam hubungan dan menjadi mampu untuk mengorganisir ruang-ruang sekitarnya.


2. SIRKULASI RUANG

A. Jenis sirkulasi penghubung ruang :

a. Melewati ruang
Untuk sirkulasi semacam ini, kedudukan atau posisi ruang – ruang yang ada di sekitar jalan tidak berubah akibat pengaruh dari pola sirkulasi ini, selain itu pola sirkulasi ini juga biasanya digunakan untuk menghubungkan ruang – ruang yang ada di sekitarnya.

b. Menembus ruang
Sirkulasi ini lebih memusatkan pada pemotongan ruang dalam dari sebuah objek, yang kemudian menciptakan bagian dari potongan – potongan tersebud menjadi suatu tempat untuk beraktivitas.

c. Berakhir dalam ruang
Sirkulasi berikut ini adalah jenis sirkulasi yang bergantung pada pola dan letak ruang. Selain itu, sirkulasi ini juga selalu digunakan untuk mencapai/ memasuski ruang – ruang yang bersifat fungsional/ ruang – ruang khusus.



B. Pola – pola sirkulasi:

a. Linear
Suatu pola sirkulasi ruang melalui garis yang mempunyai arah sehingga dapat menjadi unsur pembentuk deretan ruang.Pola ini sangat mudah ditemui karena banyak dipergunakan.

b. Radial
Suatu pola sirkulasi ruang melalui penyebaran atau perkembangan dari titik pusat.Biasanya pola radial ini mempunyai sifat mempunyai banyak ruang pergerakan.

c. Spiral
Suatu pola sirkulasi ruang dengan cara berputar menjauhi titik pusat.Pola sirkulasi ini sangat berguna pada lahan yang mempunyai luas terbatas dan pada lahan yang mempunyai kontur tanah yang curam.

d. Network
Suatu pola sirkulasi ruang melalui jaringan ( penyatuan ) dari beberapa ruang gerak untuk menghubungkan titik – titik terpadu dalam suatu ruang.

e. Campuran
Suatu pola sirkulasi ruang yang terdiri dari gabungan 4 pola ( linier, Radial, Spiral dan Network ) untuk menciptakan suatu pola yang berbeda menimbulkan kesan harmonisasi dari perpaduan 4 pola.


Referensi :
www.google.com
www.wikipedia.org
ARSITEKTUR Bentuk, Ruang, dan Tatanan oleh FRANCIS D.K CHING


Nama : Frans Y Pelamonia
NPM : 20308052
Kelas : 2 TB 01
Mata Kuliah :Teori Arsitektur 1
TERBENTUKNYA RUANG DARI UNSUR – UNSUR HORISONTAL dan VERTIKAL

A. TERBENTUKNYA RUANG DARI UNSUR HORISONTAL

1. Bidang Dasar
Ruang kadang diartikan sebagai sesuatu yang tertutup atau mampunyai batas yang jelas seperti lantai, dinding, plafon dan lain sebagainya yang dapat melindungi dan menutup berbagai kegiatan yang terjadi di dalamnya. Di lain sisi, ruang ternyata tidak lagi dipersepsikan sebagai sesuatu yang tertutup. Salah satu contoh yang sedng dibahas saat ini adalah ruang yang terbentuk dari bidang dasar. Bagian ini mau menegaskan bahwa suatu daerah/ lokasi yang walaupun berdekatan dan berada pada sebuah bidang yang sama, namun sedikit saja perbedaan yang terdapat di dalamnya, maka di situlah ruang baru terbentuk. Contoh kumpulan warna yang terdapat pada pola – pola lantai atau keramik.

2. Bidang Dasar yang Diangkat
Ciri – ciri ruang yang terbentuk dari sebuah bidang dasar yang diangkat merupakan bentuk ruang yang sering sekali kita lihat dan kita jumpai di sekitar kita. Cirri dan bentuk ruang ini seringkali dibuat agar batas antara ruang terbuka yang satu dengan yang lain dapat dirasakan. Contoh perbedaan ketinggian pada permukaan lantai teras dan halaman rumah.

3. Bidang Dasar yang Diturunkan
Sama seperti ruang yang terbentuk dari sebuah bidang dasar yang diangkat, ruang yang terbentuk dari bidang dasar yang diturunkan juga bertujuan untuk menciptakan sebuah batasan antara ruang dengan ruang. Contoh perbedaan ketinggian pada permukaan lantai teras dan halaman rumah, lantai kamar mandi dengan lantai dapur dll.

4. Bidang yang Melayang
Pada bagian ini, ruang yang terbentuk oleh bidang – bidang yang melayang merupakan sebuah betuk dan cirri ruang yang sering digunakan untuk membatasi bagian paling atas antara ruang dengan alam. Contoh plafon, atap


B. TERBENTUKNYA RUANG DARI UNSUR – UNSUR VERTIKAL

1. Unsur Vertikal Linier
Unsur-unsur linear merupakan suatu bidang yang terbentuk untuk memenuhi fungsi dari suatu ruangan agar fungsi dari ruangan atau bangunan tersebut lebih optimal. Unsur vertikal linier dapat membentuk sisi vertikal dari suatu volume ruang. Elemen vertikal linier, berdiri tegak sehingga menghasilkan sebuah titik di atas bidang dasar. Hal tersebut membuatnya terlihat seperti di dalam ruang. Beberapa contoh dari unsur vertikal linier adalah kolom, pilar batu, atau menara.

2. Suatu Bidang Vertikal
Satu bidang vertika akan menegaskan ruang yang ada di hadapannya. Sebuah bidang vertikal tunggal, berdiri sendiri di dalam ruang, memiliki kualitas-kualitas visual yang secara unik berbeda dibandingkan dengan sebuah kolom yang berdiri sendiri. Ciri-ciri pendukung lain yang dimiliki sebuah bidang yaitu warna permukaannya, pola dan tekstur mempengaruhi bobot dan stabilitas secara visualnya. Dalam komposisi suatu konstruksi visual, suatu bidang berfungsi untuk membentuk batas-batas sebuah volume.

3. Suatu Bidang yang Berbentuk “ L “
Suatu bidang berbentuk L menimbulkan suatu ruang yang timbul dari sudut yang keluar mengikuti arah diagonal. Selain itu ruang - ruang yang terbentuk oleh bidang yang berbentuk L, biasanya dapat menimbulkan dua persepsi menurut posisi orang saat memandang. Yang pertama dengan posisi orang yang memandang dari luar ke dalam maka suasana yang dapat dirasakan oleh si pemandang adalah suasana yang menjepit atau mencekam karna ruang yang terbentuk pada bagian sudut dari suatu ruang semakin kecil. Berbeda dengan orang yang memandang dari dalam/ sudut ruangan, suasana yang akan dirasakan oleh si pemandang ini adalah suasana lega, nyaman, bebas dan lain sebagainya karena ruang yang terbentuk semakin luas.

4. Bidang – Bidang Sejajar
Bidang – bidang sejajar sebagai salah satu unsure dalam pembentukan ruang merupakan bagian yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan dan penentuan ujung – ujung volume dari sebuah ruang yang tidak terbatas. Contoh gang, lorong

5. Bidang Berbentuk “U”
Sebuah konfigurasi bidang vertikal berbentuk U mendefinisikan suatu area ruang yang memiliki fokus ke dalam maupun orientasi ke luar.

6. Empat Bidang Menutup
Empat bidang vertikal menutup suatu ruang serta mempengaruhi area ruang di sekeliling penutupnya. Oleh karena areanya benar-benar tertutup, maka secara alamiah ruang didalamnyapun menjadi tertutup. Untuk mendapatkan dominasi visual di dalam sebuah ruang atau menjadi wadah utamanya, salah satu dari bidang penutupnya dapat dibedakan dari bidang lainnya melalui ukuran, bentuk, dsb. Contoh dari bidang-bidang penutup yaitu,






Referensi :
www.google.com
www.wikipedia.org
ARSITEKTUR Bentuk, Ruang, dan Tatanan oleh FRANCIS D.K CHING


Nama : Frans Y Pelamonia
NPM : 20308052
Kelas : 2 TB 01
Mata Kuliah : Teori Arsitektur 1


Rabu, 06 Januari 2010

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR PADA RUMAH TRADISIONAL SUKUN SUNDA - JAWA BARAT

Suku Sunda merupakan salah satu suku yang menempati wilayah propinsi jawa barat. Daerah yang didiami oleh suku Sunda disebut tatar sunda atau tanah pasundan. Suku Sunda merupakan salah satu suku yang sebagian besar penduduknya mendiami daerah Jawa Barat, dan bertetangga dengan beberapa suku lainnya sepeti Banten, Cirebon, serta suku Badui. Keberadaan suku Sunda di daerah Jawa Barat hingga saat ini masih menjadi sebuah misteri bagi para peneliti. Hal ini disebabkan karena tidak adanya cerita – cerita yang dapat dijadikan sumber untuk mengungkap asal usul suku ini.

Berpindah dari asal usul mengenai suku Sunda, maka dalam makalah ini akan diulas tentang arsitektur rumah tradisional dari suku Sunda yang tidak pernah mengalami perubahan dari sisi strukturnya, walaupun di sekitar daerah yang didami oleh masyarakat suku Sunda kini telah berdiri bangunan – bagunan megah yang memperlihatkan keindahan sebagai salah satu hasil dari arsitektur modern.

RUMAH TRADISIONAL

Secara umum rumah tradisional Sunda merupakan sebuah rumah panggung sama seperti rumah – rumah tradisional lainnya yang ada di Indonesia. Bentuk rumah panggung ini bertujuan untuk menghindari masalah – masalah dari lingkungan yang bisa mengancam penghuninya.

Dilihat berdasarkan bentuk atapnya, maka rumah tradisional Sunda terbagi atas beberapa ciri yang berbeda satu dengan yang lainnya:


KETERANGAN

1. Jolopong (sebutan untuk rumah dengan atap pelana yang betuknya memanjang)
2. Perahu Kumureb (sebutan untuk rumah dengan bentuk atap perisai “oleh masyarakat sunda, disebud perahu kumureb karena bentuk atap seperti perahu terbalik”).
3. Julang Ngapak (dikarenakan bentuk atapnya seperti sayap burung yang sedang terbang).
4. Badak Heuay (dikarenakan bentuk atapnya seperti seekor badak yang sedang membuka mulutnya).
5. Tagog Anjing (dikarenakan bentuk atapnya seperi seekor anjing yang sedang duduk).
6. Capit Gunting (dikarenakan bagian atas atapnya yang saling menyilang berbentuk gunting).


PONDASI

Bentuk pondasi rumah tradisional Sunda mirip dengan pondasi umpak yang dipakai untuk rumah – rumah tradisional jaman sekarang. Perbedaan yang dapat dilihat dari pondasi rumah tradisional Sunda dengan pondasi umpak yang sering dipakai sekarang adalah bentuk pondas yang unik yaitu kolom bangunan hanya diletakan di atas sebuah batu datar yang sudah terbentuk di alam. Tujuan pembuatan pondasi seperti ini adalah untuk menghindari keretakan atau pada kolom bangunan pada saat terjadi gempa, sedangkan bentuk lantai panggung bertujuan untu memungkinkan sirkulasi udara dari bawah lantai dapat berjalan baik, sehingga kemungkinan terjadi kelembaban pada lantai bangunan dapat dihindari.


Pondasi Tradisional

LANTAI
Lantai rumah tradisional Sunda terbuat dari pelupuh (bamboo yang sudah dibelah). Alasan pembuatan lantai dari pelupuh adalah seperti yang telah dijelaskan di atas yaitu agar udara yang melewati kolong rumah dapat masuk ke ruang – ruang, selain itu dengan mengunakan lantai bambu, tingkat kelembaban di dalam rumah jugah akan berkurang, mengingat ketinggian lantai rumah tradisional Sunda tidak seperti rumah tradisional lain pada umumnya yaitu berkisar antara 50 – 60 meter dari permukaan tanah.

Detail Hubungan Struktur Lantai


Detail Balok Penahan Lantai


Struktur Lantai dan Detail


Tinggi Lantai dari Muka Tanah

DINDING, PINTU dan JENDELA

Dinding, pintu, dan jendela memungkinkan udara dapat melewatinya. Dinding bangunan terbuat dari anyaman bambu yang dapat dilewati udara, jendela yang selalu terbuka dan hanya ditutupi kisi-kisi bambu maka udara dapat bebas masuk dalam ruangan, sehingga suhu didalam ruangan tidak panas.

Dinding yang ringan terbuat dari anyaman bambu yang dapat menyerap dan mencegah terjadinya panas akibat radiasi matahari sore hari. Selain itu material dinding yang terbuat dari anyaman bambu memungkinkan udara untuk masuk ke dalam rumah


Material Dinding


Konstruksi Dinding dan Detail

Selain itu ada juga pintu dan jendela yang mempunyai daun pintu dan daun jendela tunggal. Materialnya terbuat dari kisi – kisi bambu yang dapat ditembus oleh udara, hal ini membuat suasana di dalam rumah tetap nyaman


Jenis Pintu dan Jendela

PLAFON

Plafon selain sebagai penghias langit – langit rumah juga berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan barang. Kerangka plafon terbuat dari susunan bambu bulat, dan di atasnya diletakan pelupuh sebagai bahan penutup plafon.



Bentuk dan Material Plafon

ATAP

Atap sebagai mahkota dari sebuah bangunan mempunyai fungsi untuk melindungi penghuni yang berada di dalamnya. Atap dari rumah Sunda terbuat dari ijuk, alasan pemilihan ijuk sebagai material atap karena ijuk merupakan material yang dapat menyerap panas dengan baik sehingga tidak menimbulkan suasana gerah di dalam rumah. Tritisan pada sisi depan rumah mempunyai panjang 2 meter. Hal ini membuat dinding bangunan tidak langsung terkena cahaya matahari sehingga dinding sebagai penyekat tidak panas dan ruang di dalamnya tetap dingin. Selain itu ada juga sisi yang disebut sebagai bidang atap terbuat dari anyaman bambu dan berfungsi sebagai ventilasi atap


Tritisan


Bidang Atap


Bahan Penutup Atap


Struktur Atap dan Detail

LETAK dan ORIENTASI



Rumah tradisional sunda mempunyai tata letak yang sangat rapi hal ini merupakan pengaruh dari kepercayaan masyarakat bahhwa rumah tidak boleh menghadap ke bumi (rumah) adat, dengan demikian orientasi dari rumah tradisional sunda selau mengarah ke timur dan barat

POLA KAMPUNG TRADISIONAL


Keterangan Denah Komplek Rumah Adat Kampung Pulo :
1. Rumah Kuncen
2. Rumah Adat
3. Rumah Adat
4. Rumah Adat
5. Rumah Adat
6. Rumah Adat
7. Mesjid Kampung Pulo

Senin, 04 Januari 2010

ARSITEKTONIK

NAMA : FRANS Y PELAMONIA
NPM : 20308052
KELAS : 2 TB 01
JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

ARSITEKTONIK

Arsitektur pada dasarnya adalah merupakan produk jaman. Oleh sebab itu setiap studi tentang arsitektur sebenarnya terkait erat dengan segala upaya penafsiran/pemahaman terhadap makna obyek atau tanda-tanda yang membentuk arsitektur tersebut terhadap jamannya. Pembacaan wujud arsitektur sebagai teks harus juga dipahami dalam konteksnya sebagai perwujudan dari jamannya. dan akan memiliki perbedaan yang jelas, seperti bagaimana wujud arsitektur di suatu era mengalami perubahan yang memang terasa, bukan hanya dari sisi visual tapi juga makna yang terkandung di dalamnya.
Oleh karena itu, dengan melihat teks dan konteks kondisi perwujudan arsitektur sangat dipengaruhi sekali oleh jaman, seperti:
-Pengaruh faktor-faktor non-fisik, selain faktor-faktor fisik didalam penciptaan arsitektur yang setiap jamannya berbeda-beda satu sama lain.
-Terbentuknya arsitektur yang bermakna, yang terkait dengan warisan jaman.
-Wujud arsitektur tidak bermakna tunggal, sehingga keunikan jaman tetap dapat terlihat.
-Keberadaan arsitektur yang memiliki unsur-unsur metaforis, simbolik maupun unsur mistik di dalam suatu jaman yang melatarbelakangi terbentuknya wujud arsitektur.
Dapat disimpulkan bahwa perwujudan arsitektur yang dihasilkan dalam rentang jaman akan selalu memiliki karakteristik yang khas walaupun saling mempengaruhi satu sama lain. Kondisi ini dibuktikan oleh adanya proses kritik ketika pada suatu jaman mengalami sebuah kebosanan yang akut dan mengharuskan terjadinya proses kritik. Hal ini pernah diulas dalam jurnal L’Esprit Nouveau oleh Le Corbusier dan Ozenfant bahwa untuk memunculkan bentuk baru kita harus dapat melihat sisi lemah dari bentuk lama lalu memperbaikinya.
Tahun 500 SM di Yunani diklaim sebagai masa munculnya tradisi arsitektur. Secara etimologi, kata arsitektur atau arche-tekton lahir dari tradisi Yunani. Dalam ranah metode berpikir Yunani terdapat pola pencampuran antara mitologi, mistisisme, dan matematika yang terangkum dalam ilmu filsafat Yunani. Dari dasar itulah terbentuk wujud arsitektur Yunani seperti arsitektur kuil tempat pemujaan terhadap dewa (kuil Parthenon), sistem proporsi matematis Golden Section yang lahir dari konsep Pythagoras serta kolom -kolom Doric, Ionic, Corinthian sebagai sistem simbol feodalisme Yunani.
Perkembangan budaya dan teknologi terjadi sangat pesat di era ini,ditandai oleh terjadinya revolusi industri di Inggris sekitar pada abad ke-19. Perkembangan ini juga mempengaruhi arsitektur yaitu dengan munculnya era arsitektur modern. Revolusi industri yang terjadi di inggris juga mempunyai dampak yang sangat positif yaitu para ahli mulai berlomba untuk mencipatakan berbagai bentuk ilmu dan pengetahuan yang nantinya di gunakan untuk memajukan seni, budaya serta pengetahuan masyarakat pada saat itu. Hasilnya, terjadilah penemuan – penemuan yang hingga sekarang ini terus digunakan oleh manusia, salah satu dari penemuan tersebut adalah penemuan berbagai teknologi bahan dan teknologi konstruksi untuk kepentingan produksi massal. Juga penemuan mekanika modern elevator sehingga bangunan bisa dipanjangkan ke atas mencakar langit. Selain arah selera estetika ditujukan pada kelas sosial ke bawah, teknologi juga dihayati efek bentuknya, sedangkan rasionalisme arsitektonik mulai pula dijelajahi. Awal perkembangan arsitektonik dimulai ketika munculnya berbagi jenis ukiran yang menghiasi hampir seluruh dinding bangunan pada saat itu. Namun di lain sisi Ornamen mulai dipercayai oleh Adolf Loos sebagai wujud kejahatan arsitektural karena tempelan dari ukiran dianggap sebagai kebenaran yang palsu. Maka konsep modernisme memang semakin mengkristal ke arah rasionalisme dan fungsionalisme yang digali dari era pencerahan (Aufklarung).
Fungsionalisme akhirnya menjadi tujuan akhir dari era ini. Filosofis “bentuk mengikuti fungsi” yang dicetuskan oleh Louis Sullivan di Chicago menjadi doktrin yang sangat disukai. Pernyataan “less is more” oleh Mies van der Rohe, menjadi sebuah manifesto yang sangat pas dengan logika industri bangunan, bahwa estetika arsitektur harus berdasarkan prinsip itu.
Dalam perkembangan dan penerapan prinsip arsitektonik dalam unsur – unsur bangunan, maka lahirlah prinsip lain dari arsitektonik seperti:
1. Ada ruang dan objek – objek arsitektural yang memiliki arti abstrak, simbolik, dan budaya sebagai monumen. Bentuk – bentuk ini dapat dirancang tanpa bergantung pada fungsi dan konstruksi, namun perancangannya lebih mengutamakan prinsip – prinsip estetika.
2. Dalam bangunan, seni membuat indah, dan hal ini memerlukan beberapa trik – trik sederhana untuk menghasilkan bentuk yang indah.
3. Dimensi puitik yang sering dinyatakan oleh Le Corbusier, haruslah dimengeti metoda – metoda rasionalnya oleh seorang arsitek agar ia dapat mencapai dimensi – dimensi dari estetik tersebud.
4. Pertimbangan – pertimbangan umum mengenai sekuen fungsi berdasrkan kebutuhan – kebutuhan program desain tertentu, pemilihan jenis konstruksi dan bahan yang sesuai.
5. Adanya keputusan – keputusan yang tepat mengenai pola – pola geometri mana yang harus diikuti oleh tataletak arsitektural.
6. Bentuk – bentuk geometri yang digambar di atas kertas merupakan bagian – bagian yang digabungkan dan hal itu perli dirasakan dalam bentuk dua dimensi sebelum diproyeksikan ke atas dan dikordinasikan
Sedangakan dari sisi dan bentuk arsitektonik, terdapat elemen – elemen dasar yang beraturan atau geometri dan yang tidak beraturan atau kacau, atau campuran dari kedua jenis itu diantaranya ada titik, garis, bidang, isi, ruang eksterior, ruang interior.
Untuk titik, garis dan bidang, mudahnya merupakan manipulasi nilai – nilai cahaya dan warna.
Untuk benda padat ada, bentuk – bentuk dasar seperti silinder, bola, kerucut, kubus, piramid atau karang acak yang dapat melambangkan bentuk tidak beraturan, dan benda padat heterogen yang terbuat dari berbagai figurasi.Sedangkan untuk ruang dalam, dapat memiliki hubungan langsung dengan bentuk eksteriornya.
Dari tradisi modern kemudian lahir sebuah pemahaman yang mencari otentisitas dari arah manifesto arsitektur modern yaitu gerakan avant garde. Di era ini arsitektur modern, arsitektur tradisional, dan klasik adalah representasi dan simbol dari penindasan yang dilakukan baik oleh feodalisme maupun totalitarianisme arsitokrasi. Dalam era arsitektur avant garde, seluruh tuntutan fungsionalisme modern secara teknis harus dapat dirumuskan terlebih dahulu ke dalam program arsitektur baru. Program menyimpan aksi-aksi dan rasionalitas ini yang kemudian membimbing lahirnya tipe-tipe rancangan arsitektur baru. Pada tahun 1980, Paulo Portoghesi, Charles Jencks dan kawan-kawan berhasil mengorganisir biennale arsitektur dengan tema”kekinian masa lalu” di sebuah arsenal tua di Venezia. Disusul oleh pameran keliling “revisi atas yang modern : arsitektur postmodern 1960-1985” yang diselenggarakan oleh Heinrich Klotz. Kedua pertunjukan itu menunjukkan terjadinya perubahan besar dalam arsitektur selama dua dekade terakhir. Di sana terlihat hilangnya formalisme kesederhanaan yang universal-internasional ini. Bentuk yang muncul dalam era ini selain terpecah-pecah juga sering tak beraturan,diisi oleh rincian dekoratif dan ornamental yang terasa alusif (merupakan referensi tak langsung). Tradisi telah disambung kembali walaupun tak persis sama.
Robert Venturi di dalam bukunya yang berjudul Complexity and Contradiction in Architecture mencela arsitektur modern yang baik dalam praktek maupun akademis didominasi oleh Meisianisme: “less is more”. Venturi mengkritisi Mies sebagai ”penyederhana besar” dan mengubah doktrinnya dari “less is more” menjadi “less is bore”. Venturi berkeyakinan bahwa arsitektur postmodern lebih mengutamakan elemen gaya hibrida (ketimbang yang murni), komposisi paduan (ketimbang yang bersih), bentuk distorsi ( ketimbang yang utuh), ambigu (ketimbang yang tunggal), inkonsisten (ketimbang konsisten), serta kode ekuivokal (ketimbang monovokal).
Pengertian arsitektonik:
1. Struktur logis yang diberikan oleh akal (terutama melalui pemanfaatan pembagian berlipat-dua dan berlipat tiga), yang harus digunakan oleh filsuf sebagai rencana untuk mengorganisasikan isi sistem apa pun.
2. Hal yang berhubungan , selaras atau menyesuaikan dengan kaidah arsitektural.
3. Dari atau berhubungan dengan arsitektur atau desain
4. Memiliki kualitas, seperti desain dan struktur, yang merupakan ciri khas arsitektur: sebuah karya seni arsitektonis membentuk keseluruhan.
5. Dari atau berhubungan dengan sistematisasi pengetahuan ilmiah.
6. Desain struktural yang menyatukan sesuatu bentuk
7. Sistem struktur

Referensi
Sumarjo, J. (2006). Estetika Paradoks. Bandung: Sunan Ambu Press.
Siswanto, A. (1994). Menyangkal Totalitas dan Fungsionalisme: Postmodernisme dalam Arsitektur dan Desain Kota. Postmodernisme di Sekitar Kita. Kalam, (1): 32.
Zacky, A. ( 1991). Architecture Francaise. Yogyakarta: Intermedia.
Solomon, R dan Higgins, K. (1996). Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Yayasan bentang Budaya.
www.google.com

www.wikipedia.com

www.archipedy.com

www.answer.com